76. Ikan-ikan di Kolam.




Setelah mandi pagi, Dewa menyambungkan telepon Wulan ke Damayanti di kamar. Dewa membiarkan gadis itu berada diatas tempat tidur dikelilingi boneka-boneka. Salah satu sedang dipeluknya. Sementara Dewa membuat sarapan nasi goreng. Wulan ingin nasi goreng. Dewa menyiapkan dua piring nasi goreng di atas meja makan. Setelah nasi goreng sudah siap, lalu melongok Wulan ke kamarnya.
"Halo, sayang. Nasi gorengnya sudah siap. Teleponnya dibawa saja."
Wulan lalu turun dari tempat tidur. Telepon masih ditempelkan ke telinganya.
"Bilang Lik Ti, Wulan mau sarapan dulu, nanti ditilpun lagi."
Lalu Wulan mengatakan apa yang diinginkan ayahnya. Lalu pesawat itu diletakkan di atas meja makan.
"Sarapan dulu, ya?"
Wulan mengangguk.
"Wulan mau disuapi Ayah atau mau makan sendiri?"
"Sendiri, Ayah."
"Pintar. Jadi makan bareng Ayah."
Wulan mengangguk.
"Lik Ti mau datang, Yah."
"Oh, ya? Kapan?"
"Besok, Ayah!"
"Besok?"
Wulan mengangguk.
Bagi Dewa sungguh tak sulit mengurusi Wulan. Gadis itu demikian mengerti. Hanya saja perlu dilayani dan diperhatikan. Dan apa yang selama ini dilakukan Dama terhadapnya sudah benar. Dama telah mengurusnya dengan baik.
Karena itu, selama bersama, Dewa tak akan melewatkan setiap kesempatan berlalu begitu saja. Setelah lama tidak berkumpul, yang tidak bisa ditebus dengan waktu kebersamaan beberapa hari saja. Tetapi setidaknya kesempatan berkumpul mulai berjalan. Setidaknya pula Wulan bisa bertemu dengannya lebih sering. Mungkin bila nanti dirinya harus pergi keluar kota, itu dilakukannya bila sudah ada Damayanti bersama Wulan. Dia tidak akan meninggalkan Wulan tanpa dijaga orang yang sudah dikenalnya dengan baik.
Hanya dia sedang mengupayakan siapa yang akan menjadi teman bermain bila sudah menetap di Griyo Tawang? Di Griyo Tawang ada beberapa orang yang memiliki anak yang usianya sepantaran dengan Wulan. Ah, biar Damayanti yang memikirkan. Kalau sudah terbiasa disana tentu akan memilih siapa yang bisa diajak sebagai teman bermain dengan Wulan.
Yang penting harus pastikan bahwa urusan kepindahan Wulan bisa selesai.
Sambil mengawasi Wulan bermain di taman belakang, Dewa menelepon Dama sambil duduk di kursi goyang.
"Oh, kenapa, mas?" tanya Dama.
"Bagaimana urusan SIM dan kepindahan Wulan?"
"Sudah Mas. Dama tinggal berkemas. Oh, ya, Mas. Nanti Rini juga ambil kuliah bareng Dama. Tempo hari Dama sudah jelaskan..."
"Aku mengerti. Nggak apa, ajak saja tinggal denganmu di Griyo Tawang," kata Dewa menyela.
"Kalau begitu Dama bisa datang bersama dia?"
"Ajak saja, buat temanmu di Griyo Tawang. Di sana ada beberapa kamar kosong. Mungkin kamu satu kamar dengan Wulan. Di atas meja ada laptop yang bisa kamu pakai untuk keperluanmu kuliah. Nanti kupindahkan satu komputer ke kamar si Rini, dia pasti perlukan itu."
"Terima kasih, mas. Perlu pesan apa lagi?"
"Kamu kemari naik travel saja. Barang-barang yang kamu bawa kan banyak. Pakaian Wulan dan barang-barang Wulan. Kemudian kopermu dan koper Rini. Naik travel saja biar praktis. Langsung saja ke Griyo Tawang."
"Baik, Mas!"
"Mau bicara dengan Wulan?"
"Sedang apa dia, Mas?"
"Pegang-pegang mulut ikan di kolam."
Dama tertawa.
"Berani?"
"Mau bicara?"
"Nanti saja, Mas. Tadi sudah banyak bicara. Biarkan dia bermain. Dama sedang menyiapkan barang supaya jangan ada yang kelupaan. Juga mau ke rumah Rini mau ngasih tahu soal keberangkatan besok."
"Ya, sudah. Telepon travel. Kabari kalau mau berangkat."
"Baik, Mas!"
"Salam ke Yang Kung dan Yang Tri."
"Inggih, Mas!"
Artinya besok malam Dama sudah berada di Griyo Tawang. Sehingga Dewa bisa pergi ke Jakarta secepatnya. Karena Wulan ada yang menjaga. Pagi itu dia panggil pak Parman untuk membicarakan teknis pengiriman beberapa lukisan yang akan dikirim ke Jakarta.
"Gambar-gambar yang mau dibawa ke Jakarta sudah saya packing. Persiapan sudah rapi," kata Pak Parman. Pak Parman dan Darso yang selalu membantunya mengurus setiap ada event di luar kota. Dewa tak mengalami kesulitan karena mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Siapa yang akan ikut mobilnya?"
"Kalau tidak saya sendiri mungkin Darso."
"Alamat sudah benar ya? Nanti saya tunggu di Jakarta."
"Ning Wulan bagaimana kalau mas Dewa ke Jakarta?"
"Besok sudah ada Dama disini. Dama datang malam hari naik travel."
"Ada Mas Beni, Mas Joy dan beberapa kawannya berada di studio," Pak Man memberitahukan.
"Biarlah, kan nanti malam mereka ada acara di pendopo. Saya sudah beritahu Gino untuk menyiapkan makan malam mereka."
"Sudah, Mas. Sekarang sedang dimasakkan."
"Jangan beritahu aku ada disini."
"Nuwun inggih, Mas."
"Aku lagi menemani Wulan."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Mas."
"Silahkan, Pak Man."
Wulan yang diawasinya dari kejauhan masih asyik dengan ikan yang berkerumun di depannya. Dewa membawakan biji palet makanan ikan dalam kaleng.
"Ayo ikannya diberi makan!" kata Dewa seraya memberikan kaleng palet kepada Wulan. Ikan-ikan warna-warni makin ramai berkerumun saat Dewa melempar makanan ikan ke air. Mereka berebut melahap palet yang mengapung di permukaan air. Wulan ikut melemparkan palet ke dalam kolam. Wajahnya ceria kegirangan. Kadang menjerit kecil saat air merciki akibat kecipak ekor ikan yang berebut palet.
Angin mulai bertiup di antara ranting pohon. Udaranya terasa sejuk, dan sinar mentari terasa hangat di kulit. Beberapa ekor capung terbang lincah di atas tanaman bunga, mencari serangga kecil untuk dimangsa. Lebah dan kupu-kupu berebut serbuk sari bunga.
Dewa mencoba menelpon Lorna. Untuk menyemangati bahwa dirinya selalu berada dekatnya.
"Selamat pagi, Na!"
"Hai, selamat pagi, Dewa!"
"Di kantor?"
"Ya, baru saja menyuruh pegawai untuk mengirimkan paket buatmu. Besok pagi sekitar jam sebelas baru sampai. Masih di Griyo Tawang?"
"Ya!"
"Malam ini mereka mau rapat reuni di situ kan?"
"Tahu dari mana?"
"Rahma yang bilang. Dewa bisa ketemu mereka kan?"
"Mungkin."
"Kok, mungkin, De?"
"Aku kan bukan panitia, jadi tak ada kepentinganku disitu."
"O, begitu. Sudah breakfast, Sayang?"
"Sudah. Bagaimana pagi ini, baik-baik?"
"Semakin baik bila Dewa bisa menelpon setiap pagi."
Dewa tertawa renyah.
"Baiklah aku hanya ingin mendengar suaramu. Selamat bekerja, ya. Sampai nanti."
"Terima kasih. I love you, De. Bye bye."
"I love you too. Bye."
"Ayah!" tiba-tiba Wulan berteriak memanggil.
Dewa segera mematikan teleponnya. Wulan berlari ke arahnya.
"Makanan ikannya sudah habis!"
"Habis? Ya, sudah nanti beli lagi."
Wulan kemudian dipeluk dan digendongnya.
"Wulan mau makan apa sayang?"
Wulan menggeleng.
"Ke kamar saja, Yah. Wulan mau main boneka," katanya kemudian.
Maka Dewa menemani Wulan bermain boneka dalam kamarnya. Sedang Dewa membuka laptop diatas meja. Mencoba membuka player winamp untuk menyetel lagu-lagu. Setelah itu dia berbaring dekat Wulan menemaninya bermain boneka.