43. Senja di Pantai Kuta

Usai presentasi, Dewa dan Lorna kembali ke penginapan menjemput Papi dan Mami. Seperti yang disampaikan sebelum berangkat presentasi, tidak ingin meninggalkannya tanpa kegiatan. Dewa sendiri menjadwalkan berkeliling Bali bila urusan dengan Pak Robi selesai. Mengingat keberadaan Papi dan Mami di Bali hanya dua hari, Dewa belum memutuskan tempat yang akan dikunjungi.
Lorna menghubungi Mami dengan ponsel.
"Mom! Kita dalam perjalanan menjemput Mommy dan Daddy? Kita akan pergi berkeliling. Urusan kita sudah selesai."
"Terima kasih bidadariku!"
"Sebentar lagi kita sampai. Daddy sudah siap?"
"Sudah sayang!"
"I love you, Mommy!"
"I love you, sweetheart!"
"Siap-siap ya?"
"Waktu masih panjang," kata Dewa, "Kita bisa berkeliling sampai malam. Akan kucoba minta tolong Komang mengantar berkeliling. Dia lebih tahu tempat menarik dikunjungi."
"Bukankah Dewa juga tahu?"
Dewa melemparkan senyum.
"Tapi tak sebaik Komang. Setidaknya dia lebih tahu hari ini ada even apa saja, yang tentunya menyangkut peristiwa budaya."
Sampai di penginapan, Lorna bergegas keluar kendaraan. Berlari kecil masuk ke dalam penginapan menemui Mami dan Papi. Lalu memberi keduanya pelukan beberapa saat.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Papi berbisik masih memeluknya hangat.
"Sukses. Dad! Dewa sudah mengaturnya."
"Oh, ya?"
"Lorna langsung diminta presentasi. Tapi Lorna selalu siap. Hanya ada yang mengganggu."
"Kenapa?"
"Mereka minta Lorna jadi bintang iklannya!"
"Oh, good! Very good!" sela Papi tegas.
"Aduh Daddy! Lorna tak ingin jadi bintang!"
Papi melepaskan pelukkannya. Pelukkan Lorna beralih kepada Maminya.
"Kamu pantas menjadi bintang, sayang!" tambah Mami, "Mana kekasihmu?"
"Tadi di belakang. Kemana dia?"
Lorna menunggu Dewa. Tapi Dewa yang ditunggu lama kemudian baru muncul.
Saat muncul Lorna langsung melambaikan tangan agar mendekat.
"Lama sekali, kemana saja?"
"Sori, ada keperluan sebentar!"
"Dialah bintangnya, Mom !" ujar Lorna, seraya menarik pergelangan tangan Dewa. Mengajaknya duduk. Dewa tak mengerti apa yang dimaksudkan Lorna.
"Bagaimana? Mau mandi dulu atau langsung berangkat sekarang?" tanya Dewa.
"Lalu Komang bagaimana?" sela Lorna dengan pandangan serius.
"Komang sedang ke Legian mengantarkan sepasang turis tua dari Beanda. Besok dia baru bisa."
"Jadi?"
"Kita jalan saja."
"Kalau begitu terserah Dewa," kata Lorna.
"Bagaimana kalau sekarang?" tanya Dewa tak ingin membuang waktu.
"Lorna ganti pakaian dulu ya biar santai," kata Lorna sembari bangkit dari duduk. Berniat pergi ke ke kamarnya.
"Eh, De. Bagaimana kalau kita bawa kamera dan camcorder?" tanyanya saat di tangga.
Dewa mengacungkan jempol.
"Thanks you!"
Lorna tertawa senang.
"Bagaimana menurutmu, Dewa?" tanya Nyonya Ivana.
"Tentang apa, Mami?"
"Lorna bilang, ada yang memintanya menjadi bintang iklan."
"Oo itu!" Dewa tersenyum.
"Kamu setuju?"
Dewa tersenyum.
"Terserah padanya, Mami. Biar Lorna yang memutuskan sendiri. Itu dilemanya. Lorna tipikal gadis yang tidak ingin jadi perhatian. Tetapi yang ada pada dirinya selalu menjadi buah perhatian. Kita hanya bisa mendorong saja."
Ucapan Dewa membuat Papi Lorna manggut-manggut. Berpendapat bahwa Dewa memahami anak gadisnya.
"Jadi menurutmu begitu, ya?" tanya Mami.
Dewa mengangguk sambil memainkan kunci mobil yang ada di tangannya.
"Lorna gadis pandai, Mami. Sikapnya lugas. Bisa tegas. Tapi hatinya lembut. Percayakan saja kepadanya, Mam. Dia bisa memutuskan apa yang menurutnya baik. Toh semua yang dihadapi saat ini bukanlah tuntutannya. Kehendak itu muncul atas keinginan pemesan. Yang dalam bisnis dikenal sebagai pemenuhan kebutuhan pasar."
Papi Lorna tertawa renyah.
"Betul!"
Dewa tertawa kecil
Nyonya Ivana memandang senang wajah lelaki yang dicintai anaknya.
"Saya permisi dulu. Tadi Lorna meminta saya untuk membawakan kamera."
"Naiklah Dewa!" kata Mami yang sejak tadi memandangi wajah Dewa. Anak itu kini dalam pandangannya semakin ganteng. Sikapnya yang dingin terkesan serius, seperti memiliki kharisma.
Dewa kemudian berlalu ke lantai atas, tapi tidak langsung ke kamar Lorna, terlebih dulu masuk ke kamarnya sendiri untuk membersihkan wajah di wastafel. Setelah merapikan rambut lalu pergi menemui Lorna di kamarnya.
Pintu kamar keduanya saling berhadapan. Saat ini pintu kamar Lorna sedikit terbuka. Dewa langsung saja masuk, tanpa menyadari Lorna saat itu sedang berganti pakaian. Tubuh Lorna sedang tidak berbusana lengkap, hanya mengenakan bra dan celana dalam saat Dewa melihatnya. Dewa terpana oleh keindahan di hadapannya untuk sesaat, meski tadi pagi hal seperti itu juga sudah disaksikannya bahkan polos.
Lorna terpekik, tetapi saat tahu bahwa yang masuk kamarnya adalah Dewa. Balik mencegahnya ketika Dewa berniat keluar kamar.
"Masuklah, De! Lorna cuma kaget. Lorna pikir bukan kamu."
Dewa urung meninggalkan kamar Lorna. Lalu mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Pakaian Lorna yang hendak dikenakan masih berada di sandaran kursi.
Entahlah kenapa Lorna tak merasa jengah berdiri tanpa busana lengkap di hadapan Dewa. Apakah lantaran memahami Dewa bukan tipe lelaki berperangai buruk? Ataukah lantaran dirinya kini resmi menjadi kekasih Dewa? Ataukah lantaran terpenuhinya harapan bahwa Dewa akan memperisterinya?
Menurutnya Dewa punya ketahanan uji mental. Entahlah. Kenapa Dewa tidak terangsang melihat tubuhnya dalam kondisi seperti itu? Bahkan sebelumnya lebih dari itu. Saat tubuhnya benar-benar polos, Dewa memandang dan mampu menguasai diri.
Lorna lalu meminta dipeluk. Dewa tidak bisa menghindari kemanjaannya. Dewa tak kuasa mencegah sikap Lorna. Akibatnya, Dewa merasakan kehalusan kulit Lorna yang hangat, lembut saat berada dalam pelukannya. Kulitnya terasa lunak. Apalagi saat lengan Lorna melingkari lehernya dan memadukan wajah.
Ah, Lorna! Sikap manjanya tak pernah berubah. Laiknya gadis kecil, polos dan lugu. Dewa tahu. Sikap itu hanya ditunjukkan padanya. Karena di balik kelembutan dan keluguannya, sesungguhnya gadis itu memiliki ketegasan dan kecerdasan, seperti yang dilihatnya saat berbicara dalam presentasi siang tadi.
Dewa memeluk hangat tubuh Lorna sesaat.
"Kenapa diam, De?"
"Papi dan Mami menunggu."
Lorna tertawa renyah. Lalu menjentik ujung hidung Dewa.
"Lorna tahu pikiran Dewa."
Dewa tersenyum.
"Aku mengagumi bentuk tubuhmu. Tubuhmu indah sekali."
"Itu yang Lorna maksud. Kenapa hanya dilihat?"
"Maksudmu?"
"Tubuh ini kan kini milikmu."
Dewa memahami arti ucapan Lorna. Namun dirinya belum berhak sepenuhnya menguasai tubuh itu apalagi memperlakukan sekehendak hati. Ada batasan norma yang terukur dalam dirinya.
"Untuk sementara cukup dilihat saja."
Lorna menggelayut memeluknya sejenak. Dewa merasakan betapa lunak tubuh Lorna. Halus bak kain beludru.
"Terserah Dewa. Tetapi Lorna tak menghalangi setiap keinginan Dewa sekalipun tak sebatas hanya memandangi."
Dewa balas menjentik ujung hidung Lorna yang bangir.
"Cinta yang kau berikan sudah cukup memberiku kebahagiaan. Mereka menunggu," bisik Dewa ke telinganya.
"Biarlah!"
Lorna lalu duduk di pangkuannya.
"Terima kasih atas dukungan presentasiku tadi."
"Pasti! Lekaslah berpakaian. Nanti Mami akan kemari bila kita berlama-lama disini."
"Dewa masih mau melihat?"
"Melihat apa?"
"Milikmu."
"Apa itu?" tanya Dewa berlagak tak paham.
"Tubuhku!"
Dewa tersenyum.
"Dewa sudah melihatnya. Tubuhmu indah sekali. Aku ingin melukisnya nanti?."
Lorna mengangguk dan memberikan bibirnya untuk dipilin. Dewa memilinnya sejenak.
"Kenapa tidak? Kamu boleh lakukan apapun," bisik Lorna setelah Dewa melepaskan pilinannya.
Dewa meletakkan jari telunjuknya ke bibir Lorna yang basah sambil berbisik.
"Dewa akan melakukan apapun sepuas yang kuinginkan setelah menikahimu nanti."
Lorna memeluknya erat.
"Jagalah buatku." bisik Dewa lagi.
"Jagalah apa, De?"
"Perawanmu..." bisik Dewa.
Lorna membenamkan wajahnya ke leher Dewa. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum lalu membalas dengan ucapan yang lunak.
"Selalu kujaga, Dewa, Hanya untukmu."
Kemudian melepaskan pelukannya. Segera bangkit dari pangkuan Dewa. Mengenakan celana panjang dan baju yang tertunda, yang diperhatikan Dewa hingga selesai.
Lorna tak merasa jengah diperhatikan, bahkan memberi keleluasaan setiap bagian tubuhnya diperhatikan lelaki yang dicintainya. Lelaki yang menjaganya. Lelaki yang berjanji menikahinya. Lelaki yang baginya tegar sekali. Lelaki yang menyuruh menjaga keperawanannya. Keperawanan yang hanya ingin dipersembahkan kepada lelaki yang baru saja memilin bibirnya. Bertahun-tahun keperawanannya selalu dijaga dengan baik hanya untuk lelaki yang kini tengah memperhatikan tubuhnya tanpa bermakna cabul.
"Bagaimana, De?" tanya Lorna setelah rapi berbusana.
"Sempurna!"
"Thank you."
Lorna tertawa renyah. Lalu duduk di pangkuan Dewa kembali. Tangannya melingkar menggelayut leher Dewa.
"Siap?" tanya Dewa.
"Oke!" jawab Lorna seraya menyentil ujung hidung Dewa, "Aku mencintaimu, De!"
"Aku juga, Na!"
Lorna mengecup pipi Dewa sebelum bangkit dari pangkuannya.
Peralatan kamera sudah disiapkan Lorna di atas meja. Dewa tinggal membawa. Keduanya lalu menuruni tangga.
"Oke, Mom! Kita berangkat!"
"Hanya kita?" tanya Papi.
"Ya, Daddy. Hanya kita!"
Mereka beranjak ke kendaraan. Dewa mengunci pintu. Ada petugas jaga penginapan.
Udara sore mulai terasa dingin. Suasana mulai redup karena mentari sudah kelelahan seharian bersinar, kini perlahan menuju peraduan. Sesekali tercium aroma dupa menyusup masuk ke dalam kendaraan melalui sela jendela kaca yang sedikit terbuka.
Dewa mengemudi. Lorna di sampingnya. Papi dan Mami di bangku tengah. Dewa mengendarai berkeliling-keliling. Menunjukkan lokasi-lokasi pertunjukan kesenian. Pusat kerajinan. Melewati pusat-pusat keramaian. Hotel, cafe, restauran. Melihat-lihat dari sudut pandang jalan raya. Sanur, Legian, melewati kawasan-kawasan wisata yang tak pernah sepi sampai kemudian terdampar di pantai Kuta.
Di pantai Kuta mereka memarkir kendaraan di halaman sebuah restoran.
"Kita minum dulu. Setelah itu kita ke pantai," kata Dewa.
Senja temaram menyelimuti pantai Kuta. Debur ombak menyediakan pemandangan romantis. Mereka duduk di atas pasir beralas karpet yang dikeluarkan Dewa dari mobil. Karpet itu sengaja dipersiapkan Komang di dalamnya, menurutnya itu sangat dibutuhkan bila berada di pantai.
Panorama senja di pantai Kuta memancing keinginan siapa pun untuk menikmatinya. Ada yang duduk bercengkerama berpasangan. Ada yang hilir mudik dari ujung ke ujung sepanjang pantai. Ada yang berkejar-kejaran. Ada yang sendiri merenung memandangi laut yang kian lama berwarna kelabu dan kelam. Ada yang masih berenang bermain riak gelombang. Entahlah kenapa pantai ini sedemikian terkenal hingga mewujudkan barisan syair puisi dan lagu. Padahal pantai pasir yang lebar terbentang, lebih banyak dipenuhi kerumunan pelancong yang membuat pantai tak pernah sepi.
Dewa tak nyaman bersama kerumunan orang. Dia hanya ingin menyenangkan Lorna dan keluarganya, akibat perpisahan yang lama dan tak pernah hubungan lagi. Pertemuan keluarga ini dimanfaatkan untuk memulihkan kebersamaan seperti dulu.
Lorna menggandeng tangan Papi dan Mami berjalan di atas pasir. Dewa mengambil gambar mereka dengan camcorder. Lorna berada di antara Papi dan Mami. Dewa mengambil foto mereka berlatar belakang lembayung senja cakrawala.
Lorna memperhatikan Dewa familiar menggunakan kamera dari berbagai sudut pengambilan. Begitu pula saat Lorna meminta ikut berfoto. Dewa familiar menyiapkan tripod, dan menyetel timer. Semula Lorna meragukan kemampuannya dan bermaksud membantu, tapi Dewa memberi tanda acungan jempol kalau kamera sudah siap, artinya tak ada masalah bagi Dewa.
Ah, Dewa. Kamu penuh kejutan. Kata hati Lorna.
"Ayo, Dewa!" teriak Lorna manja agar Dewa lekas ikut berpose.
Penggambilan gambar dilakukan beberapa kali. Setelah itu Dewa pergi sebentar. Saat kembali Dewa menenteng tas berisi minuman ringan dalam kaleng. Ada bir ringan buat Papi. Juga kacang kulit dan keripik kentang.
"Terima kasih, Dewa," kata Mami.
Mereka duduk bersama di atas pasir beralas karpet. Nyonya Ivana membuka bungkus kacang yang dibeli Dewa. Tas kresek digunakan menampung sampah makanan.
"Kapan-kapan ajak Dewa ke Australia," kata Mami kepada Lorna.
Lorna memandang Dewa lalu menyandar ke dadanya.
"Lorna bisa urus bila Dewa berkeinginan pameran di Sidney atau di Melbourne. Ada teman-teman bisa membantu," kata Lorna seraya mengambil biji kacang dari telapak tangan Dewa. Dewa mengupas untuknya.
"Papi dan Mami ingin melihat tarian?" tanya Dewa berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dewa memijit pinggang Lorna. Pijitan itu Lorna tangkap kalau Dewa tak ingin pembicaraan berkutat perihal dirinya. Apalagi saat Dewa mengedip sebelah matanya.
"Sori..." bisik Lorna nyaris tanpa suara.
"Di mana bisa kita melihatnya?" tanya Papi.
"Ada banyak tempat menyediakan seni pertunjukan. Kita cari rumah makan yang lengkap menyediakan pertunjukan itu. Tapi rata-rata seperti itu. Karena itu merupakan daya pikat."
Setelah dirasakan cukup menikmati pemandangan dan suasana pantai Kuta. Mereka segera meninggalkan tempat itu.
Kota ini hidup di sepanjang hari. Dewa akan membawa mereka ke sebuah cafe. Pemiliknya cukup dikenalnya. Tempat itu menyediakan seni pertunjukan kesenian Bali yang diperuntukkan bagi pengunjung Cafe.
Made memeluknya erat seraya menepuk-nepuk bahunya begitu bertemu Dewa.
"Yak opo kabare, wong Malang! Kemana saja selama ini?"
"Sori, aku tak sendiri!"
"Dengan siapa?"
"Turis!" Dewa mencoba menutupi.
"Bagus, bagus. Itulah gunanya kawan."
"Mari kukenalkan."
Maka Dewa membawa Made ke tempat Lorna dan kedua orangtuanya duduk.
"Ini kawan lama saya," kata Dewa memperkenalkan.
"My name Made.." kata Made tapi cepat dipotong Dewa.
"Sudahlah. Mereka bisa bahasa Indonesia."
Papi Lorna tertawa.
"Selamat datang di Indonesia. Mister dari mana?"
"Australia."
"Ya ya. Australia dekat sekali di selatan. Mau lihat tarian, Mister?" tanya Made.
"Ya!"
"Itu maksudku mengajaknya kemari," kata Dewa menambahkan.
"Tapi silahkan menikmati masakkan kami dulu. Dewa tahu saatnya pertunjukkan dimulai. Gamelan yang terdengar itu hanya pengantar. Silahkan," kata Made seraya tertawa gembira. Masih menepuk-nepuk bahu Dewa.
"Aku sebenarnya ingin ngobrol banyak. Sudah lama kamu nggak kemari. Sombong sekali. Tapi Dewa harus menemani di sini. Oke? Aku ke dalam dulu. Kamu bebas saja masuk menemuiku."
Made lalu masuk ke dalam. Irama gamelan tari pendet membuat wajah papi Lorna kian bersemangat.
"Teman-teman kamu banyak di sini, Dewa."
"Ya, Pi!" jawab Dewa kembali duduk di sebelah Lorna. Lorna mengangkat gelas minum Dewa dan memberikannya. Dewa meneguknya sesaat.
"Dewa pernah tinggal di Ubud, Dad," kata Lorna
"Ubud?"
"Ya, Ubud. Tempat para seniman berkarya dan berkumpul. Ada yang melukis. Ada yang mematung. Kapan-kapan kita ke Ubud," Dewa menambahkan.
Sambil makan mereka menikmati suasana cafe yang artistik. Suasananya mirip di rumah Dewa. Hanya gaya rumah Dewa berarsitektur Jawa. Papi dan Mami belum pernah melihat rumah Dewa. Lorna ingin mengajak mereka ke rumah Dewa. Papi dan Mami tentu akan betah berada di tempat itu.
Lorna menyuapkan potongan daging bistik ke mulut Dewa. Mau tak mau Dewa menerima suapan itu. Lorna demikian manja kepadanya. Tak peduli diperhatikan Papi dan Maminya. Lorna hanya ingin memperlihatkan kasih sayangnya. Dan merasa betapa beruntung dirinya pulang ke Indonesia menemukan kembali kekasihnya yang telah lama hilang. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Dia telah menyesali dengan apa yang telah disia-siakan selama ini. Kini sadar betapa egois dirinya selama ini. Betapa selama ini telah menyia-nyiakan cinta yang sesungguhnya dimiliki lelaki itu pada dirinya ternyata tak pernah pupus. Tetapi setelah mengintrospeksi dirinya sendiri yang masih memiliki darah Jawa dari Maminya, maka dia ingin banyak belajar menjadi wanita Jawa.
Ya, aku harus banyak belajar menjadi wanita Jawa. Tapi sayang Mami tidak banyak tahu bagaimana sejatinya wanita Jawa. Beruntung semasa masih sering bertandang ke rumah Dewa. Sempat mengenal dekat ibunda Dewa. Wanita yang sudah lanjut usia. Yang lembut budi bahasanya. Yang demikian santun. Yang demikian ulet dan gigih melakukan pekerjaannya sebagai pembatik agar tetap bertahan hidup dengan seorang putera yang kini menjadi lelaki yang dicintainya.
Dewa menjentik dagu Lorna yang termangu menatapnya.
"Melamun?"
Lorna tersipu.
Suasana cafe telah menuntun Lorna teringat kembali ke masa lalu. Teringat kembali akan petuah dari ibunda Dewa bahwa wanita itu harus menghormati suami. Suami akan semakin trisno bila isterinya menghormatinya.
Dewa membelai rambut Lorna setelah tersadar dari lamunannya.
"Kamu banyak melamun?" Dewa bertanya dengan lembut.
Lorna tersenyum.
"Suasana di sini membuat Lorna teringat rumah Dewa."
"Kenapa?"
"Rumah Dewa terasa damai dan nyaman."
"Tinggalah di sana bila merasa nyaman."
"Lorna tunggu Dewa menikahi Lorna agar bisa tinggal bersama di dalamnya."
"Kita akan melakukannya, tapi tak perlu menunggu saat itu bila kamu ingin berada di dalamnya."
"Terimakasih, De! Kamu baik sekali."
Nyonya Ivana memperhatikan apa yang dilakukan Dewa. Dia suka sekali sikap Dewa terhadap anaknya. Hubungan keduanya nampak harmonis. Sikap Dewa pun terhadap Lorna sejauh ini tak pernah memperlihatkan sikap buruk. Tak pernah bicara kasar. Suaminya pun bila ada sesuatu yang tak dimengerti perihal Dewa akan bertanya dulu dan meminta pendapatnya. Hasilnya suaminya pun turut dan mempercayakan Lorna kepada Dewa.
Irama gamelan Bali semakin keras. Memberi pertanda pertunjukan sudah dimulai.
"Mari kita melihat ke sana!" ajak Dewa.
Maka mereka menuju ke lokasi panggung pertunjukan. Lampu selain di atas panggung di buat redup. Sehingga pandangan terfokus ke atas panggung. Seorang penari mulai keluar dari pintu gapura yang berada di tengah panggung. Melenggak-lenggok seirama tabuhan gamelan.
Lorna mengambil gambar dengan camcorder. Mengambil gambar suasana. Mengambil gambar Papi dan Mami yang terpukau menikmati tarian di panggung. Kemudian men-shoot Dewa. Dewa mengedipkan sebelah matanya.
Papi Lorna seperti enggan menyudahi menonton pertunjukkan. Kesempatan itu dimanfaat Dewa memesan pepes ikan tongkol bakar. Bila berkunjung ke Cafenya Made yang paling disukainya adalah masakkan itu. Dia meninggalkan Lorna dan kedua orangtuanya menikmati pertunjukkan sementara Dewa berbincang dengan Made
"Seleramu tak pernah berubah!" kata Made kepada Dewa.
Dewa ketawa.
"Buat disantap di penginapan."
"Kamu menginap di mana?"
"Penginapan Komang."
"Masih hidup, dia?" kata Made tertawa bercanda.
Dewa pun tertawa.
"Siapa dia, beautiful benar?" tanya Made.
"Jangan coba-coba."
"Gacoanmu!"
"Tunanganku!" ujar Dewa memproteksi.
"Ouw, sori sori, De!"
Dewa mengangkat tangan.
"Berat jadi duda selama ini!" kata Made.
Dewa tersenyum.
"Duda dan tidak bagiku tetap sama."
"Pas benar buat kamu!"
Kemudian Dewa menyelesaikan pembayaran berikut tip buat yang di panggung.
"Seniman berhak hidup kan," kata Dewa.
Made tertawa terbahak-bahak.
"Makasih berat, De. Ojo kapok yo !"
"Kapok? Kerabat mereka pasti mampir kemari kalau datang ke Bali. Masukkan kartu namamu ke bungkusan pesananku."
"Wow, tentu. Terima kasih, Dewa. Dewa selalu membawa berkah."
"Amin!"
"Mampirlah kemari."
"Kamulah ke tempatku. Jangan cari uang terus."
Made tertawa.
"Aku juga harus kasih makan yang kerja di sini."
"Kan bisa kamu tinggal sebentar."
"Oke..oke. Aku akan agendakan ke tempatmu. Nginap yo?"
"Sesukamu!"
"Yak opo. Payu?"
Dewa tahu yang dimaksud Made. Tentang lukisannya.
"Ada yang meminang."
"Dari mana?"
"Bali!"
"Bali? Hebat!"
Dewa manggut-manggut.
Made meninju lunak bahunya.
"Nggak ada yang bisa mengalahkan Dewa." ujarnya.
Mereka berdua lantas tertawa terbahak-bahak. Itulah Dewa. Itulah yang membuat siapa yang pernah mengenal Dewa selalu rindu berkumpul dengannya. Dewa memang nampak dingin. Tetapi sekali merasakan dinginnya Dewa maka akan merasakan kesegaran yang ditimbulkan.