109. Kabar Buat Mami.

Dewa bersandar di punggung tempat tidur. Lorna menyandarkan diri padanya sedang bertelepon dengan Mami.
"Hallo sweety!"
"Hai, Mommy! Lorna rindu!" suara Lorna manja.
"Apalagi Mami, sayang. Sedang berada di mana bidadariku?"
"Sudah di Bali, Mom. Shooting!"
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik, Mom. Cuma pingin tidur di pelukan Mommy."
"Terlebih Mami. Bagaimana kabar kekasihmu?"
Lorna menengadah. Berusaha menatap wajah Dewa yang memeluknya.
"Lorna memintanya menemani selama di Bali."
"Bagaimana hubungan kalian?"
"Baik Mom!"
"Mami mau bicara. Boleh?"
"Please, Mom. Dia kan menantu Mommy."
Dewa mengambil alih ponsel di tangan Lorna.
"Hallo, Mam!"
"Apa kabar, Dewa. Kalian baik-baik saja?"
"Ya, Mam. Bagaimana kabar Papi?"
"Baik. Berapa lama rencana kalian di Bali?"
"Paling cepat empat hari lagi. Tapi belum tahu setelah acaranya Lorna."
Lorna lalu mengubah ke mode speaker.
"Acara kita berdua, Mom. Dewa ikut shooting!"
"Oh ya?"
"Kita berdua jadi yang membintangi"
Terdengar Mami tertawa senag.
"Kok bisa begitu, sweety?"
"Kontraknya berubah. Mereka minta bintang laki-lakinya diubah digantikan Dewa atas permintaan pemesan."
"Baguslah untuk kalian berdua."
"Mom. Lorna ada acara reuni lagi."
"Reuni kemarin kenapa?"
"Banyak yang tidak puas. Minta diulang karena tak lengkap. Maunya yang lebih akbar kata kawan-kawan."
"Ya, dengan begitu kamu bisa hadir nanti."
"Ya, Mom. Rencana kita sih. Habis reuni sepakat resepsi pernikahan kita."
"Hai, benarkah?"
"Ya, Mom. Kami sudah merencanakan."
"Syukurlah! Terus rencananya bagaimana? Apa perlu Mami pulang ke Indonesia?"
"Jangan dulu! Apakah di Australia harus buat acara lagi?"
"Tentu saja. Supaya tetangga, kerabat, semua teman Daddy mu dan teman Mami, juga teman kuliahmu di sana ikut merayakan. Nanti Mami bicarakan dengan Daddy."
"Tapi tolong jangan disebarluaskan. Kita masih ingin diam-diam dulu. Mommy jangan beritahu Tante dan Om di Jakarta, mereka jangan sampai tahu dulu. Biarlah Lorna yang akan beritahu mereka."
"Mami senang mendengarnya."
"Mom?"
"Ya, sayang?"
"Ini juga kejutan. Hari ini Dewa ulang tahun."
"Oh, ya? Mana Dewa?. Happy Birthday, Dewa!"
"Terima kasih, Mam!"
"Semoga panjang umur. Semoga hubungan kalian sampai tua. Mami tunggu rencana resepsi kalian ya?"
"Ya, Mam. Akan kudampingi sampai jadi kakek dan nenek."
Lorna menatap lembut Dewa. Lalu mengecup pipinya.
"Jaga anakku, ya?"
"Ya, Mam. Jangan kawatir."
"Terima kasih, Dewa. Bila perlu sesuatu, bilang ke Mami ya?"
"Baik, Mam. Kurasa kami baik-baik saja. Dewa mohon maaf bila menemaninya tidur."
Mami tertawa.
"Kenapa memangnya? Menurut Mami dia kini kan isterimu. Mami percaya Dewa menjaganya."
"Ya, Mam."
"Lorna selalu mengatakan. Tidur di sampingmu terasa aman. Ada yang menjaga. Membuatnya bisa tidur nyenyak. Dia bilang kamu menjaga keperawanannya."
Dewa tak mengomentari. Merasa risih membicarakan keperawanan.
"Ah, Mommy, jangan vulgar begitu ah. Dewa masih penuh tatakrama."
Mami tertawa.
"Kalian sudah dewasa. Tak ada yang salah membicarakan itu. Mami bahagia sekali kalian bisa cepat mewujudkannya."
"Pilih gaun pengantinnya ya, Mom?"
Mami terdengar tertawa senang.
"Sudah langsung dalam pikiran Mami."
"Ivone dan Jeremy dua ponakanku jadi pengiringku nanti."
Mami tertawa lagi.
"Itu akan jadi kejutan buat mereka."
"Mom, besok kami mau ada penggambilan gambar. Lorna mau istirahat dulu. Nanti Lorna hubungi lagi."
"Kalian tidur bersama?"
"Kenapa, Mom?"
"Cepat beri Mami cucu."
"Ah, Mommy. Nanti Lorna berikan itu."
"Mami mencintaimu."
"Lorna juga mencintaimu, Mom. Salam ke Daddy. Lorna cinta Daddy."
"Papimu tahu sayang. Setiap menelponmu, Papi selalu mengingatkan, jangan lupa menyampaikan bahwa Papi sangat mencintaimu."
"Selamat malam, Mom. Bye."
"Bye, sayangku. Bye Dewa."
"Bye Mam!"
Tangan Lorna memeluk pinggang Dewa. Wajahnya ditelusupkan ke bawah lehernya.
"Aku mencintaimu, De!"
Dewa membelai rambut dan menciumnya. Rambutnya harum sekali.
"Lorna senang Dewa bilang akan mendampingi Lorna hingga menjadi nenek," suara Lorna lirih.
"Apakah kita akan menikah lagi di Australia?"
Dewa tertawa lunak.
"Resepsinya. Tak ada pernikahan dua kali."
"Untuk menghormati Daddy dan Mommy di lingkungan sana."
"Tentu saja."
"Dewa sudah punya paspor?"
"Aku pernah pameran di Jerman, Perancis dan Singapura."
"Berarti tak ada masalah dengan paspor. Sewaktu-waktu kita pulang ke Australia. Nanti kuajak Grace dan Rahma."
Dewa mencium kening Lorna.
"Ajaklah, mereka teman terbaikmu. Mari kita tidur. Mereka tentu sudah tertidur."
"Selamat malam, De!"
"Selamat malam, Na. Aku mencintaimu. Kenapa kau bilang ke Mommy soal keperawananmu?"
"Dia Mommy ku, Dewa keberatan?"
"Tidak! Sewajarnya begitu. Sebab seorang ibu selalu mencemaskan anaknya terutama anak gadisnya. Komunikasi kalian bagus."
"Lorna anak satu-satunya, Dewa."
"Benar!"
Dewa lantas mengecup bibir Lorna dengan lembut. Kelopak mata Lorna mengatup. Meresapi kecupan lelaki yang amat dicintainya sejak dulu.