49. Bangun Terlambat.

Untuk kedua kali Lorna bangun mendahului Dewa. Tetapi Nyonya Ivana sudah bangun lebih awal dari mereka. Sepagi itu sudah mengatur breakfast yang disiapkan penginapan. Hatinya senang hubungan anak gadisnya dengan kekasihnya mengalami peningkatan. Sementara itu suaminya masih belum bangun sekalipun waktu sudah menunjuk pukul lima pagi. Seharusnya mereka sudah duduk di teras menikmati teh hangat.
Saat di lantai atas mengantar minuman dan makanan kecil buat Lorna dan Dewa. Anak gadisnya sudah berada di ruang tengah sibuk dengan komputer.
"Selamat pagi, Bidadariku," sapanya lembut.
"Morning, Mommy!"
Lorna tersenyum ceria, memberikan bibir dan pipinya untuk dikecup. Nyonya Ivana segera mencium kedua pipi, dan mengecup bibirnya sesaat.
"Aduh harumnya. Sudah mandi ya."
Lorna tersenyum.
"Dewa?" tanya Mami.
"Jam empat, Mommy. Jam empat kebiasaan waktunya bangun. Sepertinya dia masih pingin memperpanjang tidurnya," jawab Lorna seraya menyeruput minuman yang baru diantarkan.
"Seperti Papimu, masih ngorok. Sudah dilihat?" tanya Mami kembali.
Lorna mengangguk.
"Masih telungkup."
"Ya, sudah. Mami turun dulu ya. Mungkin Daddy perlu Mami. Di bawah sudah ada nasi goreng. Kita bisa breakfast."
"Thanks, Mom. Nanti saja. Menunggu Dewa. Lorna sempatkan dulu urusan kantor."
"Oke, oke Mami tak akan mengganggu. Kapan kembali ke Jakarta?"
"Nggak tahu, Mom. Yang penting mengantar dulu Mommy dan Daddy ke bandara. Setelah itu Lorna baru pikirkan."
"Baiklah. Mami ke bawah dulu, ya."
Lorna kembali berkutat dengan laptop. Sesekali membuka ponsel. Membalas dan menghapus sms. Banyak sms yang tak sempat dibaca. Antara lain dari Rahma dan Grace. Ada pula dari Joy dan Beni. Kawan-kawan sekolah semasa sma. Reuni belum lama berselang membuat mereka terhubung kembali. Dalam sms mereka rata-rata menyinggung hubungannya dengan Dewa.
Lorna tersenyum sendiri.
Mentari mulai bangkit dari ufuk. Suara ombak di kejauhan, sayup-sayup menerobos dahan dan dedaunan pohon morris di depan kamar Lorna. Seekor merbah bergerak lincah dari satu dahan ke dahan lain menyambut pagi. Mencari ulat dan serangga.
Lorna berdiri di depan jendela. Menikmati udara pagi yang menyeruak masuk ke dalam kamarnya. Dewa masih belum keluar dari kamar. Hal itu membuatnya gelisah. Beberapa kali keluar masuk kamar, berharap sudah berada di ruang tengah. Tapi belum kelihatan juga.
Sepulang dari Kintamani, serta sejak Mami memergokinya pagi-pagi keluar dari kamar Dewa, juga sejak Dewa mengikatnya dengan cincin, membuatnya riskan berada di kamar Dewa. Padahal semalam keduanya tidur bersama. Dewa memeluknya. Tak lebih dari sebelumnya. Dimana mereka berciuman hingga nafas terengah-engah, dan penutup tubuh terserak, berkeringat. Semalam tak seperti itu.
Setelah dilamar Dewa dan tidur malam bersama. Dirinya sudah memasrahkan diri bila Dewa ingin melakukan lebih dari apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Tapi Dewa tak melakukan sesuatu. Apakah karena kecapaian setelah menempuh perjalanan panjang?
Diperhatikannya cincin di jari manisnya. Dikecupnya sesaat benda itu. Lalu pandangannya dilemparkan ke kejauhan, pada rimbunnya pohon yang memagari pantai dengan bentangan pemandangan laut yang luas. Pohon-pohon itu menghalangi pandangan langsung pada ombak yang memecah di pantai. Hanya suaranya terdengar dari tempatnya berdiri.
Merbah yang menyelinap di antara ranting pohon sudah tak nampak lagi. Barangkali terganggu kehadiran dua ekor tupai yang saling berkejaran. Menyelinap pada batang pohon. Sesaat muncul dengan ekor bergerak lincah, sesaat menghilang kembali.
Tanpa disadari, sebuah tangan melingkar merengkuh pinggangnya perlahan. Dirasakan sosok tubuh itu menekan belakang tubuhnya. Dia tahu, lelaki yang ditunggunya yang melakukan itu. Maka wajah yang diharapkan sejak tadi menempel di samping wajahnya, dan memberinya sebuah bisikan.
"Selamat pagi, Lorna."
Lorna tersenyum hangat. Wajahnya yang selama menunggu muram berubah ceria. Seceria pagi yang kian cerah.
"Selamat pagi, Dewa." jawabnya perlahan dengan suara lembut manja.
"Maaf terlambat bangun. Tadi pagi bermaksud mengajakmu bermain ke pantai. Untuk mandi dan berenang. Lalu menghangatkan tubuh dengan sinar matahari pagi. Berbaring hingga siang hari. Tapi situasi sedang tak berpihak, aku terlelap bangun kesiangan."
Lorna tertawa kecil. Membalikan badan. Memberikan bibirnya untuk dikecup.
"Mungkin setelah kita mengantarkan Daddy dan Mommy ke bandara," Lorna berkata dengan jari telunjuknya mendorong bibir Dewa menjauhi bibirnya.
"Aku hanya melihat laptopmu di ruang tengah. Kucari dan kutemukan di sini."
"Lorna menunggumu sejak tadi."
"Kenapa tak membangunkan aku."
"Tidurmu nyenyak. Tak ingin mengganggu. Semalam Lorna tidur bersama Mami di sini."
Dewa tersenyum.
"Kenapa?"
"Supaya tidurmu bisa nyenyak," jawab Lorna berkelit.
"Kau pikir aku merasa terganggu?"
"Nggak sih."
"Kasihan Mami. Waktumu tersita untukku."
Lorna lalu memeluknya.
"Lorna yang mengabaikannya. Bukan salah Dewa."
Dewa membelai rambutnya.
"Sudah siap memintaku kepada Papi dan Mami?"
Dewa mengangguk.
"Lorna sudah bicarakan semalam dengan Mommy."
Dewa mengangkat kening.
"Mommy mengira mata Lorna sembab akibat berselisih denganmu."
"Lalu?"
"Lorna bilang itu akibat Dewa gagal mengajakku kencan."
Dewa tertawa.
"Ini tak benar."
"Memang. Kita kan berkencan setiap hari sejak kita berjumpa lagi."
"Ini baru benar."
"Lorna tak ingin menyia-nyiakan kebersamaan kita."
Dewa memeluknya erat. Lorna membalas pelukan itu.
"Secepatnya akan kukunjungi bila kau di Jakarta."
Lorna diam sejenak. Lalu memberitahu kalau kawan-kawan menanyakan kabar mereka berdua. Tetapi Dewa nampak enggan membicarakan. Lorna tak memaksa berbicara perihal mereka. Seakan tahu hal itu mengganggu perasaan Dewa.