102. Dalam Keheningan Malam.

Makan tanpa keberadaan Dewa terasa tak nyaman bagi Lorna, meski ada Grace dan Rahma. Pikiran kusut tentu akan membawa pengaruh terhadap nafsu makan. Dan itu yang sedang dialami Dewa demikian menurut perasaan hatinya. Tetapi Lorna tak ingin perasaannya diketahui kedua sahabatnya itu, dia berusaha bersikap wajar.
Usai makan ketiganya masih bercengkerama dalam kamar yang ditempati Grace dan Rahma. Ketiganya berbincang dengan serius hingga larut malam. Entahlah apa yang tengah mereka perbincangkan.
Sementara Dewa tertidur terlentang dalam kamarnya. Tangannya terlipat di dada. Kakinya menumpu bersilang. Nafasnya menghela dengan teratur. Bila perasaannya tidak nyaman, dia menenangkan diri dengan tidur terlentang seperti itu. Biasanya setelah dibawa tidur beberapa saat, perasaan tersebut berangsur akan menghilang.
"Kembalilah ke kamarmu. Dewa mungkin sudah menunggu," kata Grace kepada Lorna.
"Menunggu apa?"
"Ya, tidur. Memangnya apa?" jawab Grace.
"Kalian tadi perhatikan sikap Dewa nggak?
"Nggak, kenapa?" jawab Rahma.
"Sepertinya dia menerima tawaran itu dengan berat hati," kata Lorna.
"Yang benar. Mestinya dia senang, apalagi menjadi pasanganmu. Membuat iklan itu akan terasa nyata," kata Grace.
"Aku sendiri juga nggak tahu."
"Kalau begitu kita sudahi dulu pembicaraan kita. Besok kita siapkan apa yang baru saja kita bicarakan. Kita tidur dulu. Dan Lorna juga harus kembali ke kamar, Dewa mungkin sedang menunggu," kata Rahma.
Mereka kemudian saling mencium pipi.
"Selamat tidur semua!"
"Selamat, Na. Salam ke Dewa?"
"Yo'i!"
Lorna kemudian kembali ke kamarnya. Mendapati Dewa tengah tertidur. Posisi tidurnya tidak berubah, masih mengenakan sepatu serta kaos kaki. Lalu dia mendekati untuk melepaskannya dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Dipandanginya wajah Dewa. Seakan ingin membaca apa yang mengganggu pikirannya tadi.
Kemudian Lorna melepas dan mengganti busananya dengan daster tidur. Lalu diambilnya kimono tidur Dewa dari dalam almari gantung, dan disiapkan di tepi pembaringan bila Dewa terbangun nanti. Dia berpikir bahwa Dewa ketiduran, bila tidur selalu mengganti pakaiannya, serta tanpa baju bagian atas.
Setelah berkumur dan mencuci wajah, Lorna naik ke atas pembaringan. Telungkup menjagai wajah Dewa. Memandangi wajahnya. Tangannya membelai wajahnya penuh kelembutan. Ujung hidungnya didekatkan ke pipinya. Sesekali bibirnya mengecup bibir itu. Namun Dewa masih terlelap tidur. Lama sekali Lorna berjaga memandangi wajah Dewa hingga dia membuka matanya.
Setelah terjaga serta memulihkan kesadarannya. Dia melihat keberadaan Lorna yang ada di sampingnya. Lalu tangannya merengkuh tengkuk Lorna dan menariknya ke atas dadanya.
"Sudah lama, sayang?" tanya Dewa dengan bisikan lembut.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Lorna, wajahnya dilekatkan ke wajah Dewa. Dan bibirnya berada di bibir Dewa.
"Kenapa?"
"Bicarakan dengan Lorna."
Dewa tersenyum.
"Tak ada yang perlu kau cemaskan."
Lorna menindih tubuhnya. Dewa membiarkan apa yang dilakukannya. Sejak mereka telah saling mengetahui bahwa mereka saling mencintai, apalagi setelah mengikat diri dengan cincin. Lorna lebih bersikap manja. Ingin selalu bersama. Ingin selalu dekat. Ingin pesta pernikahan mereka bisa segera dilaksanakan. Agar tidak berjauhan lagi.
"Aku belum ganti pakaian tidur."
"Aku tahu, tadi sudah kulepas sepatumu. Kimono juga sudah kusiapkan."
"Terima kasih. Mereka sudah tidur?" Dewa menanyakan tentang Rahma dan Grace.
Lorna mengangguk. Rambutnya yang lebat menaungi wajah Dewa, dan tubuhnya yang mengenakan daster tidur transparan terasa membebaninya. Dewa tidak keberatan ditindih seperti itu.
"Aku mencintaimu, De," Lorna berbisik. Ucapan yang tak pernah lupa disampaikan padanya.
Dewa mengecup pipinya penuh kelembutan.
"Aku mencintaimu juga."
"Dewa keberatan mendampingi Lorna untuk iklan itu?"
"Tidak! Ada apa?"
"Lorna lihat ada kegusaran di wajah Dewa tadi."
"Aku hanya perlu istirahat sebentar."
"Sakitkah?"
"Nggak."
"Dewa belum makan. Kuambilkan makan, ya?"
Dewa menggeleng.
"Atau mau minum panas?"
Karena Dewa tidak menjawab. Kediaman Dewa diartikannya sebagai jawaban mengiyakan, Lorna lalu turun dari pangkuannya. Karena dalam penginapan hanya dirinya yang laki-laki, sedangkan yang lain perempuan, Dewa tak keberatan Lorna mengenakan daster tidur transparan yang memperlihatkan tubuhnya yang indah, menampakkan pakaian dalam, dan keluar kamar mengambilkan minum untuknya.
Saat Lorna kembali, Dewa telah mengganti pula pakaiannya dengan kimono yang telah disiapkan Lorna. Dia juga sempat membersihkan diri di kamar mandi.
"Kubawakan pizza dan brownies"
"Terima kasih, Na."
Lorna mendampinginya duduk di sofa dekat jendela yang terbuka sambil memegang cangkir capucino panas, yang kemudian diseruput Dewa sedikit demi sedikit. Dewa mengambil sepotong pissa dan menggigitnya.
"Kamu cantik sekali. Tubuhmu indah," kata Dewa seraya menatapnya.
"Terima kasih. Tubuh ini milikmu, De. Seharusnya ketika keluar kamar tadi kukenakan pelapis daster luar."
"Nggak apa, toh hanya aku yang melihatnya."
"Dewa ingin bercinta?" tanya Lorna dengan suara perlahan.
"Bila Lorna juga menginginkan," jawab Dewa seraya membelai rambut Lorna yang tergerai.
Lorna mengangguk.
"Aku berharap bisa meresmikan hubungan kita setelah acara reuni usai ."
"Ya?" Lorna lantas meletakkan cangkir ke atas meja nakas. Lalu mencium pipi Dewa dengan lembut. "Terima kasih, De. Lorna senang mendengarnya."
"Reuni dilakukan menjelang akhir tahun. Jadi kita masih memiliki persiapan. Aku berharap saat teman-teman dalam masa cuti."
"Kita berdua rancang undangannya, ya?"
"Buatlah. Dewa yang akan pikirkan acara pernikahannya. Jadi jauh-jauh hari kita berdua bisa merancangnya."
"Boleh kuberitahukan, Mommy?"
"Silahkan, tapi hanya mereka berdua saja. Kita rencanakan ini diam-diam. Tante dan Om Rujus di Jakarta jangan sampai tahu dulu."
"Rahma dan Grace?" tanya Lorna seraya menatap dalam ke mata Dewa.
Dewa tak kuasa menolak bila Lorna melibatkan kedua sahabatnya itu.
"Mereka yang akan membantu menyusun dan menyebarkan undangannya nanti," kata Lorna beralasan. "Mereka bisa merahasiakannya."
"Mereka sahabat terbaikmu. Terserah Lorna."
Lorna menggenggam tangan Dewa seraya menatap dalam. Bola matanya mulai berkaca-kaca lantaran bahagia bisa membahas ini. Dewa menyeka bawah matanya, kawatir Lorna akan menangis lagi yang akan menimbulkan kesembaban pada pelupuk matanya, itu akan mengganggu shooting-nya.
"Tak akan sembab, De. Tak akan mengganggu shooting besok. Lorna hanya merasa bahagia."
Dewa tersenyum.
"Ya, sudah!"
"Dimana kira-kira kita akan rencanakan untuk pelaksanaannya?" tanya Lorna, membiarkan dirinya ditarik Dewa sehingga berada dalam dekapannya.
"Di Griyo Tawang."
"Lorna belum pernah kesana. Tapi tahu sedikit ketika lagi chatting dengan Grace yang memperlihatkan pendopo dengan camera webcam."
"Nanti kita kesana."
"Setelah shooting?"
"Nanti saja, aku harus bekerja dulu."
Lorna diam, mengerti bahwa Dewa harus melukis dan masuk ke studionya. Dewa sudah mengatakan itu sebelum berangkat ke Bali. Mereka sudah sepakat tentang hal itu. Sehingga Lorna kemudian tak bertanya lagi.
"Aku hanya ingin mengantar Rahma dan Grace pulang ke Malang. Dan ingin bertemu teman-teman di sekretariat reuni. Sekretariatnya kan berada di rumah Rahma. Dewa keberatan?"
Dewa menggeleng.
"Cahaya rembulan di luar cerah sekali."
"Kumatikan lampunya ya?" tanya Lorna.
"Boleh!"
Cahaya bulan memang cerah sekali menerangi jagad raya. Pepohonan dan dedaunan terlihat seperti saat siang hari. Suasana terasa hening. Apalagi saat Lorna mematikan lampu kamar. Cahaya bulan menerobos jendela dan menerangi wajah keduanya yang kini duduk di sofa panjang. Dewa memeluk Lorna dari belakang. Dan Lorna pun berbisik halus ke telinga Dewa.
"Kita bercinta sekarang?"
Jendela yang terbuka tak hanya menerima cahaya rembulan yang masuk. Namun semilir angin malam yang dingin terasa menyergap kulit yang telanjang. Wajah rembulan yang pucat seakan terperanjat mengintip Dewa dan Lorna bergumul di sofa.