103. Sebuah Rencana.

Seperti yang mereka bicarakan semalam. Grace dan Rahma meminta bantuan Komang mengantar berbelanja. Kepergian mereka atas kesepakatan bersama Lorna, karena itu merupakan bagian dari rencana mereka bertiga. Sedangkan Lorna lebih memilih berada di dekat Dewa.
Sejak pagi Dewa dan Lorna mencari udara segar di pantai. Berjalan bergandengan menelusuri permukaan pasir yang panjang. Mengejar kepiting pantai. Memungut lokan dan melemparkannya ke tengah laut.
"Jangan cemaskan soal shooting yang akan kita lakukan. Kita akan melalui tanpa kesulitan. Percayalah semua akan berjalan mudah. Karena pada dasarnya kita adalah pasangan yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh iklan itu. Dan itu akan memudahkan sutradara untuk melalui setiap scene yang akan diambilnya."
Apa yang dijelaskan Dewa dibenarkan oleh Lorna.
"Lorna percaya pada Dewa."
"Kenapa Grace dan Rahma tak ikut kita ke pantai?" tanya Dewa.
"Mungkin mereka lebih ingin menikmati suasana pasar di Bali dari pada pantainya," jawab Lorna datar menyembunyikan alasan sesungguhnya kenapa Grace dan Rahma tak ikut jalan-jalan menelusuri pantai.
"Mereka ingin melihat Pura Uluwatu," kata Lorna melanjutkan.
"Lorna pernah kesana?" kata Dewa.
"Belum. Karena itu ajaklah kesana nanti."
"Kita kesana bersama-sama," jawab Dewa seraya merengkuh pinggang Lorna.
"Setelah pengambilan gambar selesai, apakah kita akan jalan-jalan dulu di Bali?"
"Berapa lama acara shooting-nya?"
"Sudah kuminta ke Erwin mempercepat tanpa mengurangi kualitas. Nanti sore dia akan ke tempat kita, dan aku akan mengingatkan kembali."
Mereka kemudian berhenti melangkah. Jejak kaki mereka tertinggal di belakang. Hanya ada jejak mereka, belum ada jejak lain yang mengunjungi pantai selain mereka berdua. Lorna berdiri menghadap laut yang terbentang luas. Dewa memeluknya dari belakang. Wajahnya menempel samping wajah Lorna. Rambut Lorna berkibar diterpa angin laut. Terpaannya terasa sejuk di kulit wajahnya.
Telapak tangan Lorna memegang pipi Dewa, mengelusnya lembut.
"Dengan Nirmala apakah Dewa pernah lakukan seperti yang kita lakukan semalam?" tanyanya perlahan.
"Kenapa? Cemburu?"
"Ya!" jawab Lorna seraya tersenyum.
"Itu karena kau mencintaiku, yang berharap aku tak menyentuh wanita lain selain dirimu. Apakah akan kita membahas Nirmala?"
"Ah, nggak."
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?
"Karena Dewa pandai melakukannya."
Dewa menggigit telinga Lorna lunak. Membuat bulu kuduknya merinding.
"Kalau bisa mengukur dan menilai tentu berpengalaman."
"Dewa!" tiba-tiba Lorna memotong dengan suara keras sambil berbalik menghadap ke Dewa. Menatap dengan membeliak tajam mata Dewa.
"Kenapa?"
"Kenapa Dewa menuduh Lorna demikian?"
"Menuduh apa? Dewa tak menuduh. Jangan gunakan istilah itu."
"Lorna tak punya pengalaman bercinta selain dengan Dewa. Lorna hanya berpendapat."
"Ya, sudah. Tapi aku tak bermaksud mengatakan itu. Dewa hanya mau mengatakan apakah Lorna berpengalaman atau tidak, Dewa tak peduli."
"Lorna tak punya pengalaman. Lorna masih virgin, De. Hanya Dewa yang boleh menyentuhnya. Lorna menjaganya hanya untuk Dewa. Hanya dengan Dewa, Lorna mau melakukannya. Lorna hanya mau bercinta dengan Dewa. Dewa bisa membuktikan, tetapi Dewa tak mau melakukannya. Dewa sudah mengatakan, akan melakukannya bila sudah tiba saatnya nanti." ujar Lorna seraya menatap tajam ke mata Dewa.
"Jangan menangis."
"Lorna tak menangis."
"Kalau kamu sedih nanti kamu menangis."
"Lorna hanya berpendapat, Dewa pandai sekali bercinta."
"Apakah pandai artinya berpengalaman?"
Keduanya lama bertatapan tanpa bersuara. Hanya desah lidah laut yang menjulur di atas pasir dan suara camar di atas laut yang terdengar. Akhirnya Lorna tersenyum. Kemudian memeluknya erat.
"Maafkan Lorna." katanya.
"Apakah Lorna tak menyukai?"
"Lorna menyukai, karena itu Lorna cemburu. Apalagi Lorna sudah tahu milik Dewa yang sempurna."
Dewa tersenyum.
"Dewa tahu. Jangan dihubungkan ke masa lalu."
"Maafkan Lorna, De. Seharusnya Lorna tak mengatakan hal itu."
"Kumaafkan bila Lorna kembali mengajak..."
"Lorna berjanji. Bercintalah denganku nanti malam."
Dewa tertawa datar.
"Hanya bercanda, Dewa tak ingin memaksa."
"Sejak dulu Lorna tak pernah merasa dipaksa."
Dewa memijit batang hidung Lorna yang bangir. Lalu Lorna menggigit dagu Dewa dengan gemas. Dewa tertawa.
"Kamu memang adikku yang bandel!"
Lorna senang dengan ucapan Dewa. Karena Dewa juga menganggapnya sebagai adik maka dirinya sering bersikap kolokan, merajuk, hanya kepada Dewa berani berterus terang lantaran Dewa sangat memahaminya.
"Kamu adalah kakak yang bandel mau bercinta dengan adik sendiri."
Dewa tertawa yang berusaha dibungkam tawa itu dengan mulutnya. Lorna berusaha menangkap mulut Dewa dengan mulutnya, tapi Dewa menghindar. Keduanya tertawa riang. Sampai akhirnya Dewa menyerah dan membiarkan Lorna memagut bibirnya.
"Lorna janji akan mengajakmu bercinta nanti malam." bisik Lorna, bibirnya basah bekas bibir Dewa.
Sesungguhnya bila Lorna mengatakan janji dan keinginannya, tak lebih ingin memberikan sesuatu sebagai hari istimewa. Dimana Dewa sendiri tak menyadarinya. Karenanya Lorna ingin merayakan dengan Dewa nanti malam.
Ketika berada di penginapan kembali mentari pagi sudah meninggi. Grace dan Rahma sudah pulang dari berbelanja.
Lorna masuk ke dalam kamar Grace dan Rahma saat Dewa sedang mandi di kamarnya.
"Sudah?" tanya Lorna.
"Sudah!" jawab Rahma.
"Mana kue ulang tahunnya?"
"Nanti sore baru diantar. Kita harus pesan dulu. Apalagi kita minta ada tulisan dan jumlah lilin yang kita minta."
"Makanannya juga diantar sore hari. Kuminta kepada Komang untuk merahasiakan. Jangan sampai Dewa tahu. Kalau sampai tahu, tidak surprise lagi," kata Grace.
"Terima kasih!"
"He, nggak usah bilang itu, Na. Semua ini kita lakukan untukmu," kata Rahma.
"Makanya aku bilang terima kasih."
"Aku dan Rahma ada untukmu. Kita bahagia akhirnya kalian bisa menyatu kembali. Menikahlah!" kata Grace.
"Memang!" jawab Lorna pendek. Jawaban itu membuat Grace dan Rahma terkejut.
"Yang benar?" tanya Rahma.
Lorna tersenyum dan mengangguk.
"Kuserahkan pada kalian berdua yang mengatur undangannya."
"Beres. Nggak perlu kamu ragukan lagi. Lalu kapan?"
"Setelah acara reuni yang kalian adakan."
Grace dan Rahma lantas memeluk dan mencumi pipinya bergantian.
"Tunggu!" sela Lorna.
"Kenapa?"
"Rahasia ini hanya untuk kalian berdua."
"Dewa tahu kamu mengatakan ini pada kita berdua?"
"Ya. Dia memberi ijin memberitahukan hanya kepada kalian."
Maksud Lorna memberitahukan agar kedua sahabatnya tak punya pikir negatif bila dirinya dalam satu kamar dengan Dewa. Lorna juga menjelaskan kalau orangtua mereka tahu perihal itu. Karena hal itu sudah dilakukannya saat menginap bersama-sama sebelum pulang ke Australia.
"Aku tak peduli kamu tidur satu kamar, satu ranjang, mau ngapain. Aku tak peduli. Itu hak kalian," kata Grace.
"Hai! Sekalipun kita berdua tidur sekamar. Dia tetap menjaga keperawananku," sela Lorna memotong ucapan Grace.
Rahma dan Grace terdiam memandangnya.
"Jadi kamu masih perawan?"
Bola mata Lorna membelalak.
"Hai! Kalian pikir aku sudah tak gadis lagi ya?" kata Lorna seraya berusaha mencubit pipi Grace dan Rahma.
Rahma dan Grcae tertawa-tawa.
"Kupikir begitu. Habisnya kamu nempel terus ke dia!" kata Rahma.
"Memangnya kalau nempel kenapa?"
Lalu Grace berkata perlahan.
"Dia memang lelaki baik. Kamu beruntung!"
"Ah, Dewa juga beruntung!"
Lorna memandang seksama kedua wajah sahabatnya itu. Ketiganya saling memandang. Saling tersenyum. Ketiganya memang selalu berkata jujur sejak dulu. Saling melindungi. Saling menutup rapat rahasia masing-masing. Tapi ada pertanyaan Lorna yang ingin diketahui dari kedua sahabatnya itu semenjak mereka berpisah.
"Ada apa?" tanya Grace karena melihat Lorna menatapnya curiga.
"Gantian Lorna yang mau tanya kalian."
"Bertanyalah!" jawab Rahma.
"Benar nih?"
Grace dan Rahma mengangguk bersama-sama.
"Oke! Pertanyaanku sederhana. Tapi itu akan tetap jadi rahasia kita bertiga. Pertanyaanku adalah, apakah kalian masih gadis?"
Pertanyaan Lorna membuat Grace dan Rahma tersentak. Wajah keduanya merona. Keduanya tak langsung menjawab. Tapi lantaran ketiganya sudah bersepakat untuk saling jujur dan melindungi maka Grace dan Rahma enggan langsung menjawab.
"Benarkan?"
"Apanya yang benar?" tanya Grace.
"Justru kalianlah yang sudah tidak gadis lagi, " kata Lorna dengan suara perlahan dengan tersenyum.
Rahma dan Grace tersipu.
"Ayo, bilang dong..." desak Lorna.
Grace dan Rahma saling berpandangan.
"Baiklah kalau kamu mendesak. Kekasihku sudah mengambilnya," jawab Rahma duluan.
"Mengambil apaan?" tanya Lorna menggoda.
"Kegadisanku tahu!"
Lorna dan Grace tertawa.
"Aku juga kok!" jawab Grace menyusul kemudian.
"Oke, no problem. Banyak anak masih smp sudah kehilangan kegadisan tanpa berpikir panjang tanpa jaminan pacarnya akan mempertahankan hubungan. Tapi Lorna percaya apa yang kalian korbankan tak akan sia-sia."
Grace dan Rahma mengangguk-angguk.
"Kita sudah berencana," kata Rahma. Grace juga menjelaskan hal yang sama.
"Kalau aku, Dewa yang tak mau melakukannya. Maunya nanti setelah resmi." kata Lorna berterus-terang.
"Apa alasan Dewa tak mau melakukannya kepadamu. Padahal sudah pernah menikah dan sudah tentu banyak pengalaman?" tanya Rahma ingin tahu.
"Iya, mana mungkin dia bisa tahan melihat tubuhmu yang indahnya luar biasa, tak terbangkitkan gairahnya?"
Lorna mengangkat bahu.
"Aku tak tahu. Tapi yang jelas dia pernah mengatakan padaku begini. Melestarikan keperawanan memang membutuhkan banyak disiplin, kontrol diri dan ketabahan, karena kebajikan yang akan dituntut dari kita saat kita menikah nanti, itu saja."
"Hebat! Kamu beruntung, Na. Kalau lakiku sih memintanya untuk jaminan aku tak pergi meninggalkannya." kata Grace.
"Aku juga begitu..." kata Rahma pula.
"Tentu kalian sudah sering bercinta."
Grace dan Rahma tertawa.
"Ternyata aku kalah sama kalian."
"Ah, ya enggak. Kamu yang menang, bisa bertahan."
"Bukan aku. Dewa yang selalu bertahan!"
Lantas ketiganya tertawa terbahak-bahak.