105. Happy Birthday Dewa.

Hari sudah gelap saat Dewa dan Komang kembali ke penginapan. Di halaman penginapan nampak beberapa mobil diparkir. Ada yang bertuliskan 'Nirwana Resort'. Artinya ada tamu dari tim film.
Ruang depan penginapan nampak diramaikan dengan kedatangan kru film iklan. Mereka sedang menikmati hidangan yang telah disiapkan Grace dan Rahma. Dewa sesungguhnya kurang menyukai keramaian seperti itu. Namun bersikap wajar hanya karena menghormati Lorna. Dia pikir hanya untuk merayakan awal pengambilan gambar besok.
"Kamu ikut saja bersama mereka. Tunggu aku mau mandi dulu."
"Aku tak bisa lama, De."
"Ya. Kau harus pulang. Besok mereka memerlukanmu lagi. Atau kau mau pulang sekarang?"
"Aku mau pamitan dulu ke bos."
Dewa tersenyum. Bos yang dimaksud Komang adalah Lorna. Keduanya lalu masuk ke dalam. Dewa hanya tersenyum seraya mengangkat tangan memberi salam kepada semua yang ada dalam ruangan itu.
Lorna yang saat itu sedang duduk di samping Imelda, langsung bangkit berdiri mendekati dan mencium punggung tangannya sesaat. Semua yang hadir memperhatikan apa yang dilakukannya. Bos perempuan mereka saja mencium tangannya, tentu lelaki itu punya hubungan luar biasa dengannya.
"Lorna ingin memperkenalkanmu sebentar ya?" tanya Lorna perlahan.
Dewa tersenyum seraya berbisik.
"Aku mau bersihkan badan dulu. Komang juga mau pamitan pulang," bisik Dewa.
"Komang. Jangan pulang dulu!" cegah Lorna.
"Oke, tapi jangan lama."
"Sebentar, tak kan lama!"
Lorna memperkenalkan Dewa.
"Selamat malam semuanya. Barangkali sebagian dari kalian ada yang belum tahu, untuk itu saya mencoba memperkenalkan. Ini Mas Dewa yang diminta Pak Robi untuk mendampingku di acara shooting besok. Tapi karena Mas Dewa ada keperluan sebentar, maka akan bertemu lagi setelah itu."
Tim dari Bali, karyawan Pak Robi sudah mengenal Dewa. Mereka mendukung Dewa dilibatkan sebagai pemain bersama Lorna. Keserasian hubungan keduanya tak diragukan lagi. Tim dari Jakarta sebagian baru melihat Dewa, kecuali Imelda, berpendapat sama. Sutradara, Erwin mencoba mengetahui sosok Dewa, belum mengenal betul lelaki yang nampak akrab dengan bos perempuannya itu.
Penampilannya yang flamboyan, postur gagah, wajah tampan, tak banyak bicara, tersenyum seperlunya, serta tatapan matanya yang dingin dan teduh. Siapapun akan enggan berbicara bila tak perlu sekali, karena Dewa memilih bicara seperlunya.
"Membaurlah!" kata Dewa perlahan pada Komang.
"Tenang saja..." jawab Komang.
Dewa beringsut meninggalkan mereka. Naik ke lantai atas, masuk kamar untuk membersihkan badan. Lorna mengikuti masuk ke dalam kamar. Bersandar pada daun pintu seraya menatapnya sayu. Wajahnya memperlihatkan wajah iba. Dewa baru melepaskan pakaian atas dan bertelanjang dada saat melihatnya berdiri mematung menatap ke arahnya.
"Maafkan aku terlambat!"
"Bukan karena tersinggung ucapanku soal Nirmala?" tanya Lorna perlahan dengan wajah seakan menyesali ucapan yang pernah dilontarkan kepadanya.
"Aku pergi bukan karena itu," jawab Dewa dengan dahi mengerenyit.
"Seharusnya Lorna tak mengungkit itu."
"Sudahlah! Lupakanlah! Aku ingin memelukmu, badanku terasa kotor aku ingin mandi."
Lorna menghambur ke pelukannya.
"Kalau ingin memeluk Lorna. Peluk saja. Lorna tak peduli Dewa belum mandi."
Dewa merengkuhnya erat.
"Aku harus menjagamu. Kamu gadis yang bersih. Yang terawat."
"Jangan tinggalkan lagi Lorna seperti itu," Lorna berkata dengan suara perlahan.
Dewa mencium dan menghirup rambutnya.
"Maafkanlah aku. Apakah kau ingin ikut kemana pun aku pergi."
"Bawalah aku kemana saja Dewa pergi," jawab Lorna.
Kulit wajahnya menempel pada kulit dada Dewa yang bidang. Terasa hangat. Kehadirannya membuat perasaannya tak lagi resah. Walau saat ini ada perasaan yang sejak bangun tidur, ingin sekali dilepaskan. Namun masih ditahannya. Perasaan ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, sebab hari ini Dewa berulang tahun. Dewa tak menyadari akan hari kelahirannya. Nanti ucapan itu akan disampaikannya saat kue ulang tahun - yang kini masih disembunyikan dalam kamar Titi - dipotong dan lilinnya mulai ditiup.
"Boleh aku mandi sebentar?"
Pertanyaan Dewa membuatnya tersadar dari lamunannya, akibat merasa nyaman dalam pelukannya.
"Lorna tunggu di sini?"
"Tamumu di bawah bagaimana?"
"Mereka ada yang mengurus. Lorna akan mengurus pakaian Dewa dan mengambilkan minum," jawabnya sembari tengadah, memberikan bibirnya agar dikecup.
Dewa lalu memberinya kecupan. Lalu saling memandang lama sekali. Dewa membelai wajahnya. Memuaskan diri menikmati kecantikannya. Menikmati biru matanya.
"Aku mencintaimu, Na."
"Terlebih aku, De," ucap Lorna lirih.
"Aku cemas bila kamu menangis?"
Lorna menggeleng.
"Tadi sempat..." lanjutnya pendek.
"Benarkah?"
"Nanti kita bicara menjelang tidur..." kata Lorna sembari berbisik ke telinga Dewa, "Ingat janji Lorna di pantai tadi pagi?"
Dewa mengecup pipinya dan menjawab.
"Tak sepatah kata pun ucapanmu yang kulupakan."
"Terima kasih, De. Sekarang pergilah mandi..."
Selama Dewa berada dalam kamar mandi. Lorna menyiapkan pakaian Dewa dan menelpon Titi untuk membuatkan minum Dewa. Titi sudah tahu jenis minuman apa yang harus dibuatnya. Setelah Dewa selesai berbenah diri, Lorna berikan cangkir cappuccino yang baru diletakkan Titi ke atas nakas dekat jendela. Lalu memperlihatkan satu bendel naskah untuk kebutuhan shooting.
"Tak ada bedanya dengan naskah yang sudah Lorna baca," kata Dewa sambil meneguk minumannya.
"Memang. Eh, Dewa sudah membacanya?"
Dewa mengangguk seraya duduk di tepi pembaringan di samping Lorna. Lalu menatap Lorna dan berkata, "Naskahmu sempat kubaca sebelum kita berangkat kemari. Tak ada dialog di dalamnya. Dialog yang terjadi sekedar ilustrasi. Suara tak direkam atau didubbing. Hanya akan diisi narasi."
Lorna tersenyum.
"Begitulah. Tapi Dewa perlu pakaian untuk kebutuhan shooting. Apakah malam ini kita bisa keluar untuk membelinya? Di bawah, bagian custom sudah siap mengantarkan. Custom Lorna sudah disiapkan sejak di Jakarta."
"Custom pakaian di kolam renang, pantai dan custom formal, maksudmu? Itu yang terinci dalam naskah."
Lorna mengangguk.
"Perlu bicara dengan sutradara?"
"Besok saja di lokasi."
"Bisa kita turun ke bawah?"
Dewa memandang kembali Lorna yang berada di sebelahnya.
"Kuperhatikan sore ini kamu nampak anggun dan ceria," kata Dewa seraya meletakkan cangkir minumannya.
Lorna tersenyum.
"Terima kasih. Bisa kita turun ke bawah sekarang?"
"Kamu cantik sekali."
"Terma kasih. Bisa kita turun?"
"Kamu pintar."
"Terima kasih. Bisa kita turun?"
"Sejak di sekolah semua tahu kamu gadis pintar."
"Terima kasih. Bisa kita turun?"
Dewa menatapnya tajam, tatapan itu seakan bertanya kenapa demikian memaksanya Lorna agar dirinya turun ke bawah.
"Kita turun? Kita temui mereka?" Lorna mengulangi keinginannya.
"Tidak bisakah belanja custom besok saja?"
"Kalau itu mau Dewa, nggak persoalan ditunda besok. Nanti kuberitahu mereka soal itu."
"Maafkan aku. Sebenarnya aku malas ke bawah. Aku akan ke bawah hanya untuk mengantarkan Komang."
"Lorna mengerti kalau Dewa tidak menyukai suasana seperti itu."
"Bukan tak suka, hanya aku sedang tidak nyaman. Aku ke bawah hanya untuk menemanimu"
Lorna mengecup pipi Dewa sesaat.
"Terima kasih, De. Bisa kita mulai ke bawah biar mereka cepat pergi."
Lantas Dewa beranjak berdiri. Tangan Lorna menggandengnya meninggalkan kamar. Kembali menjumpai mereka yang ramai di ruang depan.
Saat Lorna dan Dewa muncul, mereka yang berada di teras segera masuk. Sehingga semuanya berada di dalam. Dewa pun mengambil tempat duduk berdampigan dengan Lorna. Keduanya seakan jadi pusat perhatian. Dewa tak menyukai situasi seperti itu.
"Selamat malam semuanya," Lorna memulai pembicaraan, "Terima kasih semua bisa hadir. Tentu kita tidak hanya sekedar merayakan dimulainya pengambilan gambar untuk materi iklan yang sudah kalian mulai sejak tadi pagi. Lebih dari itu saya hanya ingin menyampaikan dan mengingatkan, bahwa ada kalanya kita telah melupakan hal-hal yang sepele, namun justru itu memiliki arti sangat penting bagi kehidupan kita."
Grace dan Rahma kemudian mengeluarkan sebuah kue ulang tahun yang lilinnya sudah dinyalakan. Kue tersebut lantas diletakkan di atas meja yang telah disiapkan. Di depan tempat duduk Dewa dan Lorna. Piring kertas serta sendok dan garpu plastik juga sudah disiapkan, termasuk pisau untuk memotong kuenya.
"Siapa yang berulangtahun?" tanya Imel.
"Kamu bukan?" tanya Lorna pada Imel.
"Sudah lewat tiga bulan lalu." jawabnya tertawa.
"Baiklah. Saya akan menariknya untuk berdiri. Maka dialah yang berulang tahun. Jumlah lilin yang ada adalah jumlah usianya yang berulangtahun." kata Lorna.
Semua pada menebak-nebak sebelum Lorna bangkir berdiri.
"Lorna berdiri bukan berarti yang berulangtahun. Mari kita beri ucapan selamat. Karena yang berulangtahun sedang mencoba mengingat-ingat sendiri."
Grace dan Rahma memandang Lorna yang kemudian tiba-tiba menarik tangan Dewa agar berdiri. Dewa tergagap.
Grace dan Rahma bertepuk tangan, diikuti yang lainnya. Titi yang sejak tadi tak nampak, kini turut bergabung.
Dewa mendekatkan mulutnya ke telinga Lorna. Berbisik.
"Kamu sudah merencanakan?"
Lorna balas berbisik.
"Kuharap Dewa tak marah?"
"Aku tak marah. Seharusnya kamu lakukan sendiri bersama Grace dan Rahma, tak perlu melibatkan mereka."
"Maafkan aku kalau begitu."
"Ya sudah. Sudah terlanjur. Lanjutkanlah."
Lorna kembali menghadapi mereka yang sejak tadi memperhatkan pembicaraan antara Lorna dan Dewa yang tak mereka dengar, karena keduanya saling membisik .
"Silahkan meniup lilinmu, De," pinta Lorna.
Dewa yang masih merasa enggan terpaksa membungkuk meniup liliin yang diiringi nyanyian selamat ulang tahun kepadanya. Serta diikuti pemberian ucapan selamat oleh semua yang hadir. Grace dan Rahma memilih memberi ucapan belakangan.
"Selamat ya, De. Panjang umur dan semakin jaya," kata Grace. Lalu memberikan kado ulangtahun padanya.
"Ah, cukup dengan ucapan, nggak perlu begini, Grace."
"Kamu menolak?" tanya Grace.
Dewa tertawa sambil mengecup pipi Grace. Mata Grace berbinar seraya menatap Lirna, menunjuk pipinya dicium Dewa.
Lorna tertawa.
"Selamat ulang tahun, De. Semoga panjang umur, semakin berhasil dalam segala hal. Semoga cinta kalian abadi," ucap Rahma perlahan.
Seperti halnya Grace diapun memberikan kado yang bentuknya sama dengan yang diberikan Grace, hanya warnanya saja yang berbeda.
Dewa pun mengecup pipi Rahma yang matanya juga membeliak.
"Thanks, Ra!"
"Pipiku dicium, Dewa." bisiknya pada Lorna.
Lorna tersenyum-senyum. Tak menyangka kedua sahabatnya telah menyiapkan kado ulangtahun. Sedangkan dirinya tak sejauh itu punya pikiran seperti itu. Ingin tahu hadiah apa yang diberikan keduanya, maka Lorna meminta Dewa membuka kado kedua sahabatnya itu. Permintaan Lorna membuat semua yang hadir mendaulat Dewa memperlihatkan isi kedua kado tersebut.
Dewa mengupas pembungkus kado dengan hati-hati. Dan tak bisa mengelak untuk menunjukkan isi kado berupa sebuah foto ukuran A3 lengkap dengan bingkainya. Foto yang memperlihatkan Dewa dan Lorna sedang bergandengan tangan di tepi pantai. Foto itu diambil ketika mereka masih kelas tiga sma.
Semua yang hadir jadi tahu bahwa antara Dewa dan Lorna telah terjalin hubungan sejak masih bersekolah.
"Hai, aku sendiri bahkan tak punya," kata Lorna.
Dewa geleng-geleng kepala, seraya memperlihatkan ujung telunjuk jarinya kepada Rahma seperti mau menembak. Dewa dan Lorna saling memandang dan tersenyum.
"Aku tak tahu, De!" katanya Lorna seakan menolak tuduhan bahwa kado itu bagian dari rencana mereka.
Tatapan Dewa seperti mengandung tuduhan itu.
"Yang satunya buka sekalian Mas Dewa!" ada yang ikut bersuara.
Maka Dewa membuka sekalian kadonya Grace. Isi tak beda dengan yang diberikan Rahma. Hanya isi fotonya yang berbeda. Yaitu foto Dewa dan Lorna berpelukan mesra di malam hari. Yang diambil masih baru sesuai tanggal yang tertera.
Lorna tersipu malu.
Dewa kembali memandangnya seraya tersenyum.
"Lorna sungguh tak tahu. Tanyakan pada Grace dan Rahma," kata Lorna yang juga terkesima dengan hadiah kado kedua sahabatnya itu.
Akhirnya Rahma dan Grace angkat bicara.
"Teman-teman sekalian. Kami berdua memang menyiapkan kedua kado tersebut tanpa sepengetahuan mereka berdua. Itulah kenapa keduanya kini nampak berselisih. Kepada Dewa, saya mohon maaf bila kado kita tak berkenan. Hanya perlu kujelaskan bahwa Lorna tidak tahu sama sekali akan kado yang kita siapkan buatmu. Kurasa itu pilihan yang tak mudah untuk mencarikan hadiah buatmu," jelas Rahma.
Dewa tertawa datar dan berkelit bahwa dirinya tidak marah, berselisih atau pun tak berkenan dengan hadiah tersebut.
"Hadiah tersebut demikian istimewa. Kupikir kado itu cukup berhasil membuatku terkeju. Pertama, hadiah yang diberikan Lorna sudah lebih dari istimewa meski itu sekedar mengingat kapan saya dilahirkan. Terima kasih kepada semuanya, kepada kedua sahabatku Grace dan Rahma dan juga kepada..."
Dewa memandang Lorna yang bola matanya berkaca-kaca.
"Kepadanya. Terima kasih sekali telah mengingatkan."
Lorna mengangguk perlahan dengan senyum berusaha menahan air mata yang siap bergulir dari sudut matanya.
"Potong kuenya, De!" kata Grace.
Maka Dewa pun memotong kue. Mengambil sepotong untuk diberikan kepada Lorna yang berdiri di sisinya. Yang hadir kini tahu kalau Dewa dan Lorna sesungguhnya berpasangan.
"Mbak Lorna suapin Mas Dewa!" kata Imelda.
Yang lain turut menyemangati. Memaksa Lorna memberikan suapan ke mulut Dewa.
"Kamu belum memberi ucapan selamat," kata Rahma.
Dewa menyeka air mata yang bergulir dar sudut mata Lorna. Semua yang hadir terpana dan terdiam melihat bagaimana Lorna menatap Dewa sambil mengucapkan selamat ulang tahun kepada Dewa dengan suara lunak. Lunak sekali. Kemudian mengecup bibir Dewa.
"Semoga panjang umur dan selalu sehat," ucapnya lembut.
Dewa tersenyum.
"Terima kasih, Na. Kamu baik sekali."
Lantas Lorna pun menjatuhkan dirinya kepelukan Dewa. Dia sudah tak peduli lagi akan sekitarnya yang memperhatikannya.
"Maafkan aku tak pandai memberikan surprise di hari ulang tahunmu," bisik Lorna.
"Ini sudah mengejutkanku."
Setelah Lorna melepaskan diri dari pelukan Dewa. Semua yang hadir bertepuk tangan.
"Sori....saya terbawa emosi," kata Lorna.
Maka pesta pun berlanjut.